pengertian manajemen konflik

Pengertian Manajemen Konflik: Fungsi, Jenis, Contoh dan Strategi

Diposting pada 141 views

Pengertian Manajemen Konflik – Ilmu manajemen tidak hanya bisa diterapkan untuk mengatur manusia saja. Lebih dari itu, berbagai masalah dalam sebuah organisasi juga bisa diatasi dan dikendalikan dengan ilmu manajemen konflik. Melalui manajemen yang baik, segala konflik yang ada justru bisa memberi manfaat.

Pengertian Manajemen Konflik

Secara umum, manajemen konflik bisa dimaknai sebagai proses yang dilakukan untuk mengatasi konflik yang merugikan perusahaan dengan berbagai macam pendekatan. Pendekatan tersebut diaplikasikan menggunakan komunikasi sebagai media utamanya.

Sementara itu, para ahli juga ikut memaknai manajemen ini dengan berbagai definisi, di antaranya:

1. Howard Ross

Manajemen dalam konflik adalah sebuah proses yang dilakukan oleh pihak ketiga untuk mengarahkan konflik yang terjadi antara anggota dalam organisasi. Hasil dari proses pengarahan ini bisa berupa ketenangan, mufakat, serta hal yang lebih positif. 


2. Minnery

Sebuah proses rasional yang dilakukan secara terus menerus dan selalu mengalami penyempurnaan hingga mencapai model yang representatif. 

Dari dua tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen konflik adalah proses pengelolaan konflik yang dilakukan pihak ketiga dengan cara mengarahkan konflik untuk mencapai kesepakatan yang tidak merugikan semua pihak.

Fungsi Manajemen Konflik

Adanya manajemen dalam konflik memberikan banyak fungsi atau manfaat, baik untuk pihak organisasi, ataupun anggota yang ada di dalamnya. Beberapa fungsi tersebut di antaranya:

  • Mengatasi segala masalah yang ada dalam organisasi.
  • Meningkatkan kinerja karyawan dalam organisasi.
  • Mengembangkan potensi karyawan.
  • Melatih sifat saling menghormati dan menghargai antar seluruh anggota organisasi. 
  • Melatih kemampuan seluruh anggota dalam menyelesaikan berbagai konflik.

Jenis-Jenis Manajemen Konflik

Jika dilihat dari tipe yang digunakan dalam menyelesaikan masalah, dapat ditemukan beberapa jenis manajemen yang bisa diterapkan untuk mengatasi konflik sesuai kondisinya, yaitu:

1. Kompromi (Compromising)

Jenis manajemen ini dilakukan dengan mengumpulkan pihak yang berkonflik untuk diajak berkompromi. Dalam pertemuan antar pihak tersebut, masing-masing boleh menyampaikan pendapat yang diinginkan. 

Dari berbagai pendapat, selanjutnya dicari jalan tengah untuk kebaikan bersama. Diskusi yang panjang dengan setiap pihak akan menghasilkan solusi tanpa mengorbankan kepentingan masing-masing pihak. Cara ini terbilang cukup sulit, tetapi tidak berpotensi menimbulkan konflik baru.

2. Akomodasi (Accommodating)

Mirip dengan jenis kompromi, model manajemen terhadap konflik ini juga dilakukan dengan mengumpulkan pihak berkonflik beserta pendapatnya. Namun, jenis manajemen akomodasi ini mencari jalan keluar dengan mengutamakan kepentingan salah satu pihak demi kebaikan bersama.

Walaupun tidak membutuhkan banyak perubahan, tapi metode akomodasi memiliki kelemahan di masa mendatang yang berpotensi menimbulkan konflik baru.

3. Kompetisi (Competing)

Cara ini tergolong sangat sehat dan bisa meningkatkan kinerja anggota yang sedang memiliki konflik. Sesuai namanya, manajemen jenis kompetisi mengarahkan pihak yang berkonflik untuk berkompetisi atau bersaing secara sehat demi menunjukkan bahwa kepentingannya lebih penting.

Bagi pihak yang memenangkan persaingan, maka kepentingan dan pendapatnya yang akan digunakan. Sebaliknya, pihak yang kalah harus bersedia mengalah dan tidak memaksakan kepentingannya.

4. Menghindari Masalah (Avoiding)

Manajemen dengan cara menghindari masalah selalu ditetapkan oleh semua organisasi demi persatuan anggotanya. Oleh sebab itu, segala pemicu konflik atau hal yang bersifat sensitif akan dihindari. 

Cara ini berbeda dengan 3 cara lainnya, karena pengelolaan justru dilakukan jauh sebelum konflik itu timbul. Jadi sifatnya menghindari, bukan mengatasi.

5. Kolaborasi (Collaborating)

Pihak yang bermasalah justru diajak bekerja sama untuk memenuhi tujuan organisasi. Pihak yang satu tetap menggunakan pendapatnya untuk terus mencapai tujuan organisasi. Pihak yang lain juga menggunakan pendapatnya untuk melengkapi kekurangan pendapat sebelumnya. 

Kerja sama atau kolaborasi dua cara yang berbeda dari pihak yang berkonflik justru berpotensi menyelesaikan masalah karena kepentingan pihak sudah dipenuhi sendiri-sendiri demi mencapai tujuan bersama.

6. Pencampuran (Conglomeration)

Manajemen pencampuran mengombinasikan 5 jenis manajemen sebelumnya, yakni kompromi, akomodasi, kompetisi, menghindari masalah, dan kolaborasi. Walaupun hasilnya sangat efektif, tetapi proses manajemen konflik dengan cara ini membutuhkan tenaga besar serta waktu yang lama.

Contoh-contoh Manajemen Konflik

Untuk mengetahui contoh manajemen konflik tentu tidak bisa lepas dari contoh konflik yang sering terjadi di berbagai organisasi. Agar lebih mempermudah Anda dalam memahami manajemen ini, berikut beberapa contoh kasus yang bisa jadi bahan rujukan.

1. Contoh Kasus 1

Andi dan Budi berada dalam bagian pemasaran elektronik di perusahaan yang sama. Keduanya merasa dirinyalah yang paling baik dan mampu memenuhi kuota penjualan dengan jumlah besar. 

Karena sifat ini, timbul konflik yang menyebabkan keduanya tidak akur dan merasa strategi pemasarannya paling benar sehingga saling menjatuhkan.

Untuk menyelesaikan masalah dua karyawannya ini, perusahaan menggunakan teknik manajemen konflik jenis kompetisi. Akhirnya keduanya menggunakan persaingan sehat yang diawasi oleh perusahaan.

Selama sebulan, ternyata Budi mendapatkan kuota penjualan yang lebih banyak dibandingkan Budi menggunakan strateginya sendiri. Pada akhirnya, strategi Budi disepakati yang paling tepat dan Andi harus mengapa dengan pendapatnya.

2. Contoh Kasus 2 

Andi seorang karyawan marketing yang dipimpin oleh Budi sebagai manajernya dalam perusahaan yang sama. Andi merasa kesal dengan Budi karena selalu menyuruh-nyuruh dengan sifat yang kasar serta tidak mau mendengar pendapatnya saat rapat.

Agar tidak saling menjatuhkan, perusahaan menggunakan jenis manajemen akomodasi dan mengumpulkan pihak yang berkonflik. Dari akomodasi tersebut, ditemukan jalan tengah di mana Budi tetap berhak memerintah Andi karena posisinya sebagai pimpinan atau manajer.

Namun, Budi juga diwajibkan untuk memperbaiki sifat agar tidak menyuruh seenaknya. Selain itu, pendapat Andi juga harus dipertimbangkan oleh Budi saat rapat marketing. Hasil akomodasi ini mencapai kesepakatan yang mengurangi konflik antara keduanya.

Strategi Manajemen Konflik

Selain dibedakan menjadi beberapa jenis, manajemen konflik juga memiliki strategi penyelesaian yang harus dilakukan dengan baik dan benar. Berikut adalah beberapa strategi yang wajib diterapkan pihak ketiga dalam memanajemen konflik.

1. Pengenalan

Pengenalan adalah tahap awal dalam menyelesaikan konflik, di mana pihak ketiga harus mengetahui akar dari permasalahan yang menyebabkan konflik. Selain akar masalahnya, penting juga untuk mengenali kondisi di sekitar konflik. Pengenalan ini menjadi bekal utama menyelesaikan konflik.

2. Diagnosa

Setelah mendapat cukup informasi terkait akar masalah, kondisi di sekitarnya, serta konflik yang dipermasalahkan, barulah bisa mencari solusi yang tepat. 

3. Membuat Kesepakatan Solusi

Beberapa jenis manajemen konflik bisa menjadi pilihan dalam mengatasi masalah yang sudah terdiagnosa sebelumnya. Pada strategi ketiga ini, harus sudah ditemukan solusi untuk menyelesaikan konflik. Pastikan solusi tidak memihak dan bersifat sebagai penengah.

4. Pelaksanaan

Setelah ada kesepakatan, maka solusi yang diajukan dalam diskusi harus dilaksanakan oleh semua pihak. Biasanya setelah dilaksanakan dalam waktu tertentu, akan terlihat pengurangan konflik dan suasananya yang lebih membaik.

5. Evaluasi

Evaluasi dilakukan setelah pelaksanaan berjalan dan menemukan hasil. Evaluasi sangat bermanfaat untuk mengantisipasi konflik yang mungkin akan terjadi ke depan agar tidak terulang kembali. 

Manajemen konflik sebenarnya tidak hanya bisa diterapkan dalam perusahaan saja. Bagi Anda yang memahami ilmu manajemen ini, tentu segala bentuk konflik yang terjadi di masyarakat bisa diatasi dengan baik. Oleh karenanya, semua kalangan wajib mempelajari manajemen dalam konflik.

Baca juga artikel terkait “Manajemen Konflik” berikut ini :

Gambar Gravatar
Seorang praktisi Pemasaran, SEO dan Digital Marketing. Suka dengan kata dan cinta dengan karya. Turut memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui beragam artikel pendidikan di kitapunya.net.