Tugas Sutradara: Cakupan Kerja dan Keterampilan Yang Wajib Dimiliki

Diposting pada 407 views
tugas sutradara

Tugas Sutradara – Dalam dunia kreatif, film dan pertunjukan drama merupakan salah satu unsur yang memiliki banyak penggemar untuk menikmatinya.

Penggabungan audio visual untuk menyampaikan sebuah cerita atau pesan, lebih mengena di hati para penikmat film dan pertunjukan drama. Sebuah karya film atau pertunjukan drama, tak lepas dari peran seorang sutradara.


Tugas Sutradara Film

Tugas sutradara tentu bukan hanya berteriak-teriak mengarahkan para aktor saat di lokasi syuting saja. Di balik layar produksi sebuah film, entah itu film pendek atau film dengan durasi panjang, banyak tugas sutradara yang harus dilakukan.

Sebuah film, merepresentasikan soal kehidupan, bisa jadi cerita mengenai kenyataan atau bahkan fiksi yang merupakan imajinasi belaka. Karena film adalah gubahan dari kata atau sebuah cerita menjadi gambar dan suara.

Seorang sutradara juga harus memiliki kemampuan untuk story telling atau menceritakan sebuah kisah dalam sebuah gambar. Tidak hanya itu, sutradara juga dituntut untuk bisa memberikan pengalaman menonton pada penonton.

Hal unik yang bisa dilakukan oleh sutradara yaitu memberikan perspektif atau sudut pandang baru yang dimiliknya kepada penonton melalui karya-karya film yang dibuatnya.

Tugas pokok sutradara meliputi tugas secara teknis dan artistik. Tugas sutradara secara teknis adalah memahami alur kerja dalam produksi sebuah film.

Mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi. Sutradara juga harus memperhatikan pekerjaan-pekerjaan para kru yang terlibat. Jobdesk yang sudah diterima oleh para kru harus bisa dipastikan berjalan atau tidaknya, apakah ada yang harus diperbaiki atau tidak.

CAKUPAN KERJA SUTRADARA SECARA TEKNIS

1. DEVELOPMENT

a. Membaca Naskah

Sebelum proses pembuatan film dimulai, tentunya harus ada naskah cerita yang dipilih terlebih dahulu. Untuk naskah skenario atau skrip ini, bisa jadi ditulis oleh orang lain, bukan oleh sutradara itu sendiri. Maka dari itu, sutradara harus membaca naskah cerita yang telah ditulis tersebut, terlebih jika si penulis bukan dirinya sendiri. Pemahaman akan cerita sangat penting untuk bisa menyalurkan pesan kepada penonton melalui film yang akan dibuatnya.

b. Membedah Naskah

Proses membedah naskah ini biasanya tidak dilakukan oleh sutradara sendiri. Kru yang lain seperti asisten sutradara dan Director of Photography (DoP) juga bisa ikut membedah naskah sebagai pertimbangan untuk menentukan proses pembuatan film nantinya. Pembedahan naskah dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang mungkin akan terjadi saat proses syuting di kemudian hari, apakah nantinya ada kendala atau tidak jika semisal ada adegan tertentu yang membutuhkan banyak persiapan.

c. Memberikan feedback kepada penulis naskah untuk mengembangkan cerita

Setelah dibaca dan dibedah, naskah akan dilanjutkan ke tahap revisi atau pengembangan cerita. Di tahap ini, sutradara akan mengembalikan naskah kepada penulis untuk dikembangkan lagi ceritanya supaya lebih menarik dan dikemas dengan baik. Dari tahap ini juga bisa membuat pemikiran penulis dan sutradara lebih sinkron.

2. PRA-PRODUKSI

a. Memilih dan berlatih bersama pemeran film

Sebelum pembuatan film dimulai, akan diadakan casting untuk memilih para pemeran yang sesuai dengan karakter yang ada pada film. Proses casting ini dilakukan oleh sutradara itu sendiri, dengan memilih para pemeran yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Setelah para pemeran sudah terpilih, sutradara akan mengadakan sesi reading naskah dan berlatih bersama para pemeran.

b. Bertemu dan menjelaskan visi pada kru

Ketika naskah cerita sudah selesai atau mencapai tahap final draft, maka sutradara mengumpulkan seluruh kru untuk membahas produksi. Sutradara juga menjelaskan bagaimana visinya untuk produksi tersebut, secara teknis maupun artistik. Hal-hal yang dibahas yaitu mengenai kebutuhan alat-alat yang akan digunakan, pembagian jobdesk, mencatat semua kebutuhan (alat, properti, kostum pemeran, dan sebagainya), lokasi syuting, dan lain-lain.

c. Memilih lokasi yang mendekati visinya

Pemilihan lokasi syuting untuk produksi film biasanya juga memperhatikan hal-hal teknis. Setelah pembahasan dengan para kru, dan sudah tahu apa saja yang dibutuhkan, maka akan ditentukan lokasi syuting yang tepat. Pemilihan lokasi setidaknya dengan mempertimbangkan kemudahan akses listrik, kendaraan, dan sebagainya. Lokasi yang dipilih tentunya sesuai dengan naskah yang ada, dan lebih baik jika bisa meminimalisir kendala dalam produksi.

3. PRODUKSI

a. Mengarahkan pemeran agar dapat bekerja maksimal

Saat proses produksi berlangsung, sutradara mengarahkan para pemeran agar bisa mendalami peran sehingga bisa bekerja secara maksimal. Saat di lokasi syuting, sutradara akan lebih sering berkomunikasi dengan para pemeran dan mengarahkan mereka agar bisa sesuai dengan visinya mengoversikan naskah cerita yang ada ke dalam gambar (video).

b. Memantau kinerja kru agar visinya tercapai

Pekerjaan setiap kru pada saat produksi akan sangat padat. Mulai dari DoP yang mengatur dan mengarahkan kamera agar siap dipakai, asisten sutradara yang membantu sutradara mengatur waktu dan menyiapkan hal-hal teknis, tim wardrobe yang menyiapkan kostum untuk para pemeran, dan lain sebagainya. Semua kru harus selalu bersinergi untuk menghasilkan sebuah produk karya film yang sesuai dengan visi. Tugas sutradara adalah memantau dan memastikan setiap kru menjalani pekerjaan masing-masing untuk mencapai visi bersama.

c. Bertanggungjawab pada budget dan jadwal yang telah disepakati

Dalam pembuatan film, terdapat produser yang membantu dari segi keuangan untuk proses produksi. Dengan adanya budget tersebut, sutradara harus bertanggungjawab atas penggunaannya. Pertanggungjawaban itu diterapkan dengan adanya perincian dan penggunaan budget sesuai kebutuhan. Selain itu, sutradara juga wajib membuat jadwal produksi dan callsheet (rincian jadwal syuting, pembagian shot, dan lain sebagainya) dibantu oleh asisten sutradara.

4. PASCA-PRODUKSI

a. Bekerjasama dengan editor

Setelah produksi selesai dilakukan, rekaman hasil video dan audio kemudian ditata oleh editor. Penyuntingan video dilakukan dengan dua tahap, yaitu rough cut (offline editing) dan online editing. Proses rough cut sendiri merupakan proses pemilihan video-video yang akan dimasukkan dalam proses editing online, atau dalam artian video-video tersebut sudah dipilih oleh sutradara. Karena proses syuting, setiap video belum tentu sekali take langsung jadi. Bisa saja ada yang kurang dan diulang berkali-kali. Setelah proses rough cut selesai, lanjut ke proses editing menggunakan aplikasi Adobe Premiere (aplikasi yang sering digunakan untuk mengedit video untuk film). Rangkaian video-video tersebut dijadikan satu dan membentuk sebuah film utuh. Pengeditan video juga termasuk editing gambar, warna (color grading), suara, dan penambahan teks terjemahan (subtitle) jika diperlukan.

b. Bekerjasama dengan penata suara dan musik

Proses editing selanjutnya adalah mastering, yaitu penyempurnaan audio yang dimasukkan ke dalam film. Hal ini berkenaan dengan suara dan musik. Penyelarasan suara dan musik diatur sedemikian rupa agar menghasilkan sebuah film yang dapat diterima oleh banyak orang. Peran suara dan musik juga dapat menambah kesan dramatis dan menyentuh hati. Audio yang dimasukkan ke dalam film adalah rekaman suara para pemeran dan musik-musik tambahan atau backsound yang diperlukan.

CAKUPAN KERJA SUTRADARA SECARA ARTISTIK

Tugas sutradara secara artistik ialah untuk menggali cerita dengan perspektifnya sendiri, menemukan keunikan dari sebuah cerita, dan memunculkan ide-ide atau gagasan yang menarik. Aspek yang paling penting dari sebuah gagasan ialah fungsinya.

Bayangan terkait fungsi dapat dibangun dengan menentukan argumentasi, orientasi, dan akibat yang mungkin ditimbulkan. Pada prinsipnya, gagasan adalah respon terhadap apa yang dilihat, dengar, pikirkan, yang kemudian dirasakan.

Hasil dari mengalami dan mengolah pengalaman dengan pengetahuan yang dimiliki oleh sutradara. Dengan memahami fungsi, sutradara akan bisa memilih ide dan gagasan yang akan dieksekusi dengan mudah.

Sebuah karya film bisa berfungsi sebagai refleksi terhadap kehidupan. Film juga dapat berfungsi sebagai kritik atas sesuatu hal, atau pun hanya sebagai ekspresi diri. Ide-ide visual dan gagasan sutradara bisa berasal dari hal-hal sebagai berikut:

  1. Film dan Buku
  2. Musik
  3. Lukisan
  4. Riset
  5. Arsitektur
  6. Traveling

Untuk membuat sebuh naskah cerita, selain sumber ide-ide tersebut, sutradara juga membuat background story (latar belakang cerita) yang komprehensif. Untuk itu, sutradara melakukan riset guna mengenali apa yang akan diceritakan. Membangun story argument (pendapat mengenai cerita) yang jelas dan artikulatif untuk mendukung dan menjelaskan gagasan atau cerita yang dibuat. Terdapat tiga pilar produksi film, yaitu sebagai berikut:

  1. WHAT

Menjelaskan mengenai jenis film, genre, durasi waktu, dan tema film.

2. HOW

Menjelaskan bagaimana proses sebuah film dapat terwujud, baik dari segi teknis atau pun artistik.

3. WHY

Menjelaskan mengenai alasan sebuah film harus dibuat, nilai-nilai apa yang terkandung dalam cerita yang ingin disampaikan kepada penonton.

PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN YANG DIMILIKI SUTRADARA

  1. Memiliki pengetahuan mengenai teater atau drama, dan sastra. Karena hal ini yang akan membantu sutradara untuk menganalisis naskah film yang akan dikerjakan.
  2. Memiliki kemampuan untuk menyusun shot tiap scene yang terdapat di skenario.
  3. Memiliki wawasan luas mengenai pembuatan film.
  4. Memiliki tingkat kepekaan yang tinggi dalam teknik pengambilan gambar menggunakan kamera.
  5. Bisa mengarahkan para pemeran untuk berakting jika masih dirasa kurang sempurna.
  6. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat saat ada masalah di lapangan.
  7. Dapat mendiskusikan dan menilai video-video yang akan digunakan saat proses rough cut dan online editing dengan editor.
  8. Mampu memahami konsep cerita secara benar, paham dengan situasi lingkungan dan psikologis para kru dan pemeran, juga bisa berbaur dengan baik dengan seluruh orang yang terlibat dalam produksi.
  9. Mampu mengoreksi warna atau color grading saat pengeditan video, setelah mendiskusikan dengan produser dan editor.
  10. Dapat mengevaluasi dan mendiskusikan jalannya mixing/mastering berdasarkan konsep suara/backsound yang sudah ditentukan saat pra-produksi.

Dengan keterampilan dan pengetahuan seperti yang sudah disebutkan di atas, seorang sutradara memiliki gaji berkisar antara Rp 8.000.000,00-Rp 30.000.000,00 per bulan. Jenjang Pendidikan terakhir seorang sutradara biasanya adalah S1 jurusan Film dan Televisi, atau S1 Komunikasi. Namun, tidak menutup kemungkinan juga orang lain yang tidak menempuh pendidikan pada bidang kuliah tersebut untuk menjadi seorang sutradara. Bahkan, ada juga orang-orang yang mempelajari ilmu penyutradaraan secara mandiri pun bisa menjadi seorang sutradara.

TUGAS SUTRADARA TEATER/SENI PERTUNJUKAN PANGGUNG

Tugas sutradara dalam bidang pertunjukan drama tentunya juga sedikit berbeda dengan sutradara film. Dalam seni pertunjukan drama, dibutuhkan seorang sutradara yang bisa bertanggungjawab pada bidang pemanggungan.

Hal ini dikarenakan pertunjukan drama secara langsung merupakan aktualisasi dari sebuah naskah ke dalam pentas. Di dalam sebuah pentas produksi, sutradara akan dipertemukan dengan para pemeran (pemain), staf panggung seperti pemusik, tim artistik, tim lighting, dan juga para penonton yang hadir.

Tugas utama sutradara pertunjukan drama adalah memilih naskah yang akan ditampilkan, memilih (casting) pemeran, dan juga menyusun jadwal latihan hingga hari berlangsungnya pertunjukan drama tersebut diadakan. Tugas-tugas tersebut dilakukan secara bertahap, sebagai berikut:

1. Menyeleksi Naskah

Naskah pertunjukan drama tidak harus merupakan hasil karya sang sutradara sendiri, akan tetapi bisa jadi naskah tersebut merupakan hasil karya orang lain. Untuk itu, sutradara perlu menyeleksi naskah yang akan digarapnya agar bisa dikerjakan dengan penuh tanggungjawab. Setelah naskah diseleksi dan dipilih, kemudian sutradara mempelajari naskah tersebut dan mencoba untuk menafsirkannya. Setelah itu, naskah akan direvisi jika perlu, dan memikirkan sisi teknis dan artistik dari naskah tersebut.

2. Menentukan Nada Dasar

Mencari motif yang merepresentasikan cerita dan memberikan simbol kejiwaan yang terkandung pada sebuah perwujudan cerita.

3. Melakukan Casting

Setelah menganalisis karakter yang terdapat pada naskah cerita yang dipilih, sutradara akan melakukan proses penentuan pemeran melalui sebuah casting.

4. Merencanakan Tata dan Teknis Pentas

Penataan setting, penataan rias, penataan busana, penataan cahaya, serta penataan musik dan suara merupakan hal-hal yang termasuk dalam tata teknis dan pentas. Penataan tata dan teknis pentas ini disesuaikan dengan nada dasar yang sudah ditentukan oleh sutradara. Dalam hal ini, sutradara hanya bertugas untuk merencanakan dan merencanakan semua hal yang sudah dikonsepkan sebelumnya, sedangkan di dalam lapangan, pelaksanaan tata pentas dikerjakan oleh para pekerja panggung, seperti penata setting, penata rias, dan penata busana.

5. Menyusun Miss en Scene

Penyusunan miss en scene merupakan perubahan yang terjadi pada daerah pementasan akibat perpindahan pemain atau perlengkapan panggung. Dalam penyusunan ini, sutradara akan menemui masalah tentang bahasa naskah yang dialihkan ke dalam Bahasa panggung, yang biasa disebut tekstur. Tekstur adalah Bahasa panggung yang meliputi: tata pentas, action, blocking, dan mood. Sedangkan dalam tata pentas meliputi: setting, tata rias dan busana, lighting, dan musik.

6. Penguatan dan Pelunakan Scene

Penggarapan suatu cerita yang dituangkan dalam bagian-bagian adegan merupakan teknik yang dilakukan sutradara pada tahap ini. Sutradara dibebaskan untuk menentukan tekanan pada bagian-bagian adegan menurut instuisinya sendiri dengan tetap berpedoman pada naskah cerita yang ada. Hal ini didukung juga oleh efek cahaya dan musikalitas.

7. Menciptakan Aspek-Aspek Laku

Untuk mendukung pertunjukan, sutradara memberikan saran-saran kepada pemain untuk membuat laku simbolik atau akting kreatif. Para pemain dibebaskan untuk berakting sesuai improvisasi yang tidak terdapat di dalam naskah. Aspek ini dilakukan untuk memperkaya permainan sehingga penonton pertunjukan bisa lebih memahami kondisi batin para pemenran dan apa yang sebenarnya ingin disampaikan pada cerita tersebut.

8. Memengaruhi Jiwa Pemain

Dalam tahap ini, terdapat 2 macam kedudukan sutradara, yaitu sebagai berikut:

  1. Sutradara Teknikus

Ciri sutradara teknikus ialah kelebihannya dalam menciptakan pertunjukan yang menarik perhatian penonton lewat teknik dekor yang mengagumkan, tata cahaya, dan kostum yang menarik. Penyutradaraan dengan ciri ini lebih mengedepankan unsur visual daripada unsur keaktoran.

2. Sutradara Psikolog

Berbeda dengan ciri sutradara teknikus, penyutradaraan psikolog ini lebih mementingkan aspek keaktoran yang dalam penggambaran wataknya akan lebih mengedepankan tekanan psikologis. Hal yang ditonjolkan pada penyutradaraan ini ialah cara akting yang murni.

Baca juga:

Tugas Content Writer

Tugas Public Relation

Tips Mengatur Waktu Dengan Baik Agar Sukses