Sangiran, Situs Manusia Purba Bersejarah Sebagai Warisan Budaya Dunia

situs manusia purba sangiran

Sangiran, Situs Manusia Purba Bersejarah Sebagai Warisan Budaya Dunia, Kitapunya.net – Sangiran adalah salah satu tempat yang memiliki nilai-nilai sejarah didalamnya dan telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Tentu sesuatu hal yang membuat kita menjadi bangga, tapi kita juga memiliki tugas untuk menjaga situs tersebut agar nantinya tidak hanya generasi kita tapi generasi selanjutnya dapat mengambil pelajaran di sangiran.  

Sangiran disebut sebagai warisan budaya dunia karena didalamnya tersimpan ribuan peninggalan berupa fosil-fosil manusia purba, yang mana menyimpan pengetahuan yang sangat berharga. Dari peninggalan-peninggalan manusia purba tersebut, kita dapat mempelajari proses kehidupan manusia di masa lalu (zaman purba).   

Karena menjadi tempat yang memiliki nilai sejarah, sangiran sering dijadikan sebagai tempat penelitian-penelitian para ahli yang ingin mempelajari masalah manusia purba. Para peneliti kemudian juga mencoba untuk meneliti daerah-daerah di sekitar Sangiran.  

Tidak hanya dijadikan sebagai tempat penelitian saja, Sangiran juga dibuka untuk wisata umum yang dapat dikunjungi oleh warga lokal maupun warga asing. Tentu saja sebagai tempat edukasi masyarakat mengenai kehidupan manusia purba.   Masyarakat disekitarnya pun merasakan dampak positifnya, kehidupan ekonomi masyarakat sedikit terangkat berkat kegiatan pariwisata di Sangiran tersebut.   

Sangiran – Museum Manusia Purba sumber : pegipegi.com

A. Alamat/Lokasi Situs Sangiran

Sangiran merupakan tempat berupa bentangan perbukitan tandus yang merupakan sebuah kompleks situs manusia purba dai Kala Pleistosen yang aling lengkap di Indonesia, bahkan di Asia. Lokasi sangiran berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar.  

Alamat Musium Manusia Purba – Sangiran

  Lokasi ini sebagai pusat perkembangan manusia purba yang keberadaannya diperkirakan ada 150.000 tahun yang lalu. Daerah ini cukup luas bentangannya, kearah utara-selatan memiliki bentangan hingga 8 km, dan kearah timur-barat memiliki bentangan 7 km.  

Sangiran merupakan sebuah kubah raksasa yang bentuknya seperti cekungan yang cukup besar yang berada di pusat kubah, hal ini bisa terbentuk karena adanya erosi pada puncak kubah. Kubah raksasanya ini juga diwarnai dengan bukit-bukit yang bergelombang. Kondisi deformasi geologis itu menyebabkan tersingkapnya beragai lapisan batu-batuan yang terdapat fosil-fosil manusia purba, termasuk hewan-hewan zaman dulu dan artefak.   

Bila dilihat dari materi tanahnya, Situs Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir fluio-vukanik, dengan tingkat kesuburan yang rendah dan pada musim kemaru akan gersang.  

B. Sejarah Ditemukannya Situs Sangiran

Berdasarkan sejarahnya, Sangiran ditemukan pertama kali oleh P.E.C. Schemulling pada tahun 1864 yang sekaligus melakukan penelitian di tempat tersebut. Laporan pertamanya ditemukan fosil vertebrata dari Kalioso (salah satu bagian dari wilayah di sangiran).  

Selain Schemulling, seorang peneliti Eugene Dubois juga pernah meneliti di tempaat ini. Namun katanya, penemuannya masih biasa-biasa saja dan belum menemukan sesuatu yang bernilai.  

Hingga pada tahun 1934, seorang peneliti bernama Gustav Heindrich Relph von Koeningswald menemukan artefak litik di wilayah Ngebung (sekitar 2 km di barat laut kubah Sangiran). Artefak litik itulah yang menjadi penemuan penting dan bernilai di Sangiran, sejak saat itu Sangiran menjadi tempat terkenal dikalangan peneliti. Hingga banyaklah terjadi penemuan-penemuan fosil Homo Erectus secara sporadis dan berkesinambungan.  

Homo erectus adalah takson paling penting dalam sejarah manusia, sebelum masuk pada tahapan manusia Homo sapiens, manusia modern.   

Baca juga : Kapan zaman pra-aksara di Indonesia Berakhir?  

Situs Sangiran tidak hanya memberikan gambaran tentang evolusi fisik manusia saja, akan tetapi juga memberikan gambaran nyata tentang evolusi budaya, binatang, dan juga lingkungan. Situs Sangiran telah diakui sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia. Situs itu ditetapkan secara resmi sebagai Warisan Dunia pada 1996, yang tercantum dalam nomor 593 Daftar Warisan Dunia (World Heritage List) UNESCO. 

Pos terkait