penerapan bioteknologi konvensional

Penerapan Bioteknologi Konvensional di Bidang Pangan

Diposting pada 3.728 views

Penerapan Bioteknologi Konvensional di Bidang Pangan –  Bioteknologi dapat dibagi menjadi dua, yaitu bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern. Bioteknologi konvensional mengandalkan peran organisme sebagai pengubah bentuk maupun kandungan gizi melalui suatu proses yang dapat disebut dengan fermentasi.  

Penerapan bioteknologi konvensionel pada umumnya digunakan dalam pembuatan makanan, seperti yogurht, keju, dan mentega yang merupakan produk makanan dari bahan utamanya adalah susu. Kemudiian ada juga tapai, tempe yang merupakan makanan dengan bahan dasarnya dari non susu. Sebelumnya, kita pahami dulu tentang pengertian bioteknologi berikut ini :

Pengertian Bioteknologi

Bioteknologi berasal dari kata bio (hidup) dan teknologi. Pengertian bioteknologi adalah teknologi yang memanfaatkan organisme (makhluk hidup) untuk menghasilkan produk maupun jasa yang bermanfaat bagi manusia. Pada umumnya, makhluk hidup yang dimanfaatkan dalam proses bioteknologi berupa mikrobia.

Bioteknologi telah banyak dimanfaatkan dalam mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Melalui bioteknologi telah diperoleh berbagai macam bahan makanan, contohnya tempe, keju dan yogurt. Dengan demikian, bioteknologi sangat bermanfaat bagi diversifikasi pangan.


Berdasarkan tingkat kerumitan dalam pelaksanaan proses proses bioteknologi, bioteknologi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :  

1. Bioteknologi Konvensional

Penerapan bioteknologi konvensional untuk menghasilkan produk, hanya mengandalkan peran organisme sebagai pengubah bentuk maupun kandungan gizi melalui proses fermentasi. Contoh : Keju, yogurt, mentega, tapai dan lain lain. Fermentasi adalah merupakan proses pemecahan glukosa pada bahan makanan oleh mikrobia.

Fermentasi ini menghasilkan etanol, karbon dioksida, dan energi. Pada proses ini, campur tangan manusia hanya sebatas menyediakan dan mengkondisikan substrat agar mikroorganisme dapat berkembang secara optimal. Bioteknologi konvensional memiliki beberapa karakteristik antara lain sebagai berikut :

  • Jumlah produk yang dihasilkan dalam skala kecil
  • Hanya menerapkan teknologi sederhana
  • Prosesnya relatif belum steril sehingga kualitas hasilnya belum terjami

2. Bioteknologi Modern

Berbeda dengan bioteknologi konvensional yang masih menggunakan peralatan sederhana, bioteknologi modern telah menggunakan peralatan peralatan yang canggih. Selain itu, bioteknologi modern sudah dilakukan dalam keadaan steril, produksi yang dihasilkan lebih berkualitas, dan dihasilkan dalam jumlah yang besar.

Penerapan bioteknologi modern tidak hanya melibatkan mikrobia sebagai perubah bentuk maupun kandungan gizi pada makanan (fermentasi). Pada bioteknologi modern dilakukan proses manipulasi tehadap susunan genetic mikrobia yang dimanfaatkan.

Misal dengan pemotongan maupun penyisipan gen. Perkembangan bioteknologi modern sejalan dengan perkembangan dan penemuan dalam berbagai bidang keilmuan. Terutama diawali penemuan struktur DNA oleh Watson dan Crick pada tahun 1953.

Berkembangnya berbagai disiplin ilmu seperti Mikrobiologi, biokimia, biologi sel, biologi milekuler, dan genetika juga sangat mendukung perkembangan bioteknologi modern.   

Penerapan Bioteknologi Konvensionel di Bidang Pangan

A. Produk Makanan dari susu

Susu dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan, antaralain seperti yoghurt, keju dan mentega.  

1. Yoghurt

Yoghurt merupakan hasil fermentasi dari bahan dasar susu dengan bantuan dari bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophius. Yoghurt merupakan salah satu jenis minuman yang lebih mudah dicerna apabila dibandingkan dengan susu yang masih asli. Yoghurt sangat baik untuk dikonsumsi oleh manusia, karena di dalam yoghurt terkandung banyak vitamin B kompleks yang tinggi dan juga mempunyai daya antibiotika yang dapat mencegah pembusukan dini pada usus halus manusia.  

Proses pembuatan yoghurt sebagai berikut ini. Mula-mula, susu dipasteurisasi terlebih dahulu, selanjutnya didinginkan hingga suhunya kira-kira 30 derajat celcius. Bakteri asam laktat kemudian ditambahkan pada susu. Kemudian, susu disimpan dalam wadah tertutup kurang lebih selama 1 hari (24 jam) dalam suhu kamar, yaitu antara 25 – 40 derajat celcius. Selama proses penyimpanan, pH akan turun menjadi 4.0 sebagai akibat dari kegiatan bakteri asam laktat. Selanjutnya, susu didinginkan dan dapat diberi gula secukupnya.  

2. Keju

penerapan bioteknologi konvensional

Keju diproduksi dengan cara menggunakan metode pengawetan susu. Keju ini sudah mulai diproduksi sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Keju terbuat dari bahan susu yang diasamkan dengan memanfaatkan bateri asam laktat. Adapun proses pembuatan keju adalah sebagai berikut.   

Susu dipanaskan pada suhu tertentu selama beberapa waktu untuk membunuh bakteri yang berbahaya (proses ini disebut dengan pasteurisasi). Setelah itu, susu tersebut ditambah dengan bakteri asam laktat, seperti lactobacillus bulgaricus dan streptococcus thermophillus, bakteri ini digunakan untuk mengubah gula susu (laktosa) menjadi asam susu (asam laktat).   

Setelah itu, kemudian susu yang sudah ditambah dengan bakteri asam laktat, ditambah lagi dengan campuran enzim dengan kandungan utama kimosin (renin) untuk menggumpalkan susu sehingga terbentuk dadih susu. Bagian yang cair atau disebut whey dipisahkan dari bagian yang menggumpal. Dan bagian yang padat (dadih) diperas dan dipadatkan.

Selanjutnya, dadih diberi garam dan dibiarkan agar terjadi pematangan. Keju digolongkan berdasarkan kepadatannya. Kepadatan keju dipengaruhi oleh kelembaban. Makin kecil kelembapannya, makin besar kemampatan keju, sehingga keju semakin keras. Kepadatan keju ini juga dipengaruhi oleh mikrobia yang digunakan dalam proses fermentasi.   

Propioni bacterium dipergunakan dalam proses pembuatan keju keras, penicillium roqueforti digunakan dalam proses pembuatan keju setengah lunak, dan penicillium camemberti digunakan dalam produksi keju lunak. Enzim dari mikrobia ini akan mencerna protein dan lemak dadih menjadi asam amino dan asam lemak serta menambah aroma dan cita rasa dari keju.  

3. Mentega

Mentega yang sering kita gunakan sehari-hari terbuat dari krim susu yang mana mentega ini memanfaatkan bakteri Streptococcus lactis, krim susu terus diaduk sampai tetesan-tetesan mentega yang berlemak memisah dari cairannya.  

B. Produk Makanan Nonsusu

1. Tapai

Tapai yang sering kita temui dan kita makan adalah tapai yang terbuat dari ketan atau umbi-umbian seperti singkong. Bahan dasar yang berupa ketan sampai singkong ini kemudian akan mengalami fermentasi, dan akhirnya menjadi tapai. Fermentasi tersebut dilakukan dengan bantuan ragi.

Sebenarnya di dalam ragi terdapat berbagai macam jenis mikrobia. Tetapi yang paling banyak terkandung dalam ragi adalah mikrobia/jamur jenis Saccharomycer cereviceae. Jamur ini akan memecah glukosa pada singkong menjadi asam asetat, alkohol, energi dan karbon dioksida. Hal ini menjadikan tapai memiliki cita rasa yang khas.  

2. Tempe dan Oncom

Tempe adalah salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia, selain harganya terjangkau juga kandungan gizi yang banyak terkandung dalam tempe. Tempe ini terbuat dari bahan dasar kedelai dengan bantuan ragi tempe yang berupa jamur Rhizopus sp.  

Jamur yang digunakan untuk membuat tempe atau jamur Rhizopus sp. berfungsi untuk mengubah protein kompleks kacang kedelai yang sukar dicerna menjadi protein sederhana (asam amino) yang mudah dicerna oleh manusia. Adapun oncom ada dua jenis, yaitu oncom merah dan hitam. Oncom merah terbuat dari bahan dasar ampas tahu yang ditambah dengan jamur Neurospora Crassa. Sementara itu, oncom hitam terbuat dari bungkil kacang tanah yang menggunakan jamur Rhizopus Oligosporus.  

3. Roti

Bahan dasar untuk membuat roti adalah tepung terigu. Adonan tepung terigu difermentasikan dengan menambahkan ragi roti berupa yeast atau khmir (Saccharomyces Cereviceae). Adonan yang telah diberi yeast akan mengembang sehingga ukurannya menjadi lebih besar dari sebelumnya, teksturnya lembut dan tidak padat.  

4. Kecap

Kecap merupakan salah satu penyedap ras yang pada umumnya berupa cairan hitam yang rasanya ada yang manis dan juga ada yang asin, kecap ini dibuat dari bahan dasar kedelai, terutama kedelai hitam. Kecap memanfaatkan jamur Aspergillus soyae dan Aspergilus wentii.   

5. Taoco

Taoco berbentuk seperti pasta berwarna kekuningan dan rasanya agak asin. Taoco dibuat dari bahas kedelai dengan memanfaatkan jamur Aspergillus oryzae. Taoco digunakan sebagai penyedap rasa makanan.  

6. Nata de coco

Nata de coco memiliki tekstur yang kenyal menyerupai gel dan berwarna putih transparan. Nata de coco dibuar dari air kelapa. Untuk mengubah menjadi nata de coco, air kelapa ditambah dengan mikrobia yaitu bakteri Acetobacter xylinum. Mikrobia yang telah saya sebutkan di atas berguna untuk mengubah gula yang terkandung pada air kelapa menjadi selulosa. Selain terbuat dari air kelapa, ternyata nata juga ada yang terbuat dari sari nanas dan air kedelai. Nata yang terbuat dari sari nanas disebut nata de pina. Adapun nata dari air kedelai disebut naata de soya.  

7. Sayuran fermentasi (acar)

Sayuran yang difermentasi akan menjadi acar.  Cara mengubah sayuran menjadi acar ini dapat digunakan berbagai jenis bakteri seperti Streptococcus sp, Lactobacillus sp, dan Pediococcus sp. Mikrobia yang telah saya sebutkan diatas memiliki kegunaan untuk mengubah gula dalam sayuran menjadi asam asetat. Asam asetat yang terbentuk dapat membatasi pertumbuhan mikrobia laian dan memberikan rasa yang khas pada sayuran fermentasi.  

8. Minuman beralkohol

Minuman beralkohol bermacam-macam, sebagai contoh minuman yang dapat dikategorikan sebagai minuman beralkohol antara lain anggur, rum, wine dan sake. Minuman-minuman tersebut merupakan minuman hasil fermentasi. Dalam pembuatannya, ada lebih dari satu mikroorganisme yang berperan.  

9. Sufu (Keju kedelai)

Sufu terbauat dari dadiih (curd) atau gumpalan protein kedelai (tahu) yang dapat terbentuk dengan bantuan aktivitas jamur. Mikrobia yang berperan dalam pembuatan sufu yaitu Mucor sufu. Namun, Actinomucor elegans, Mucor salvaticus, M. hiemalis, dan M, subbstilissimus. Namun, jenis jamur yang paling baik dan ekonomis untuk membuat sufu adalah Actinomucor elegans.

Apa Saja Dampak Negatif Penerapan Bioteknologi?

  1. Dampak Terhadap Lingkungan
  2. Dampak Terhadap Kesehatan
  3. Dampak di Bidang Sosial Ekonomi
  4. Dampat terhadap Etika

Dampak dampak diatas tentu saja akan merugikan bagi penggunannya maupun korbanya. Dan dampak dampak diatas juga bukan dampak negatif yang sepele, bahkan bisa menimbulkan masalah baru lainnya.  

Dampak negatif penerapan bioteknologi
Dampak negatif penerapan bioteknologi

Apa saja dampak dampaknya??, berikut ini adalah dampak dampak negatif dari penerapan bioteknologi.  

1. Dampak Terhadap lingkungan

 Dengan adanya percobaan Bioteknologi, pelepasan Organisme transgenik (Berubah Secara Genetik) ke alam bebas dapat menimbulkan dampak pencemaran Biologi yang dapat menimbulkan dampak berupa pencemaran biologi yang dapat lebih berbahaya ketimbang Nuklir.  

Dengan adanya Rekayasa Genetik, perubahan genotipe tidak sesuai dengan dinamika polusi, melainkan menurut kebutuhan pelaku dari Bioteknologi.

Hal itu akan menyebabkan perubahan atau kehancuran Menciptakan makhluk hidup yang seragam bertentangan dengan prinsip biologi yaitu keanekragaman. Jika itu terjadi pastinya dunia hewan akan kacau jika Bioteknologi tidak terkendali.  

2. Dampak Terhadap Etika

Menyisipkan gen makhluk hidup lain memberikan dampak etika yang berbahaya. menyisipkan gen makhluk hidup lain yang tidak berkerabat dianggap melanggar hukum alam.

Banyak orang yang sudah menentang adanya penggabungan antara 2 gen. Bagi penganut agama Islam, itu akan membuat orang islam menjadi bingung, bagaimana tidak bingun. jikalau Gen babi digabungkan dengan Gen buah yang halal, itu akan menimbulkan masalah baru.

Apalagi penggabungan antara 2 hewan, contoh gen 1 Hewan Harimau dan Gen 2 Kambing. itu akan membuat makhluk hidup itu terasa Konyol.  

3. Dampak di Bidang Kesehatan

Produk rekayasa di bidang kesehatan dapat juga menimbulkan dampak negatif dari Bioteknologi. Ini bahkan menjadi masalah yang serius bagi Para Ilmuwan. Contohnya saja adalah penggunaan insulin hasil rekayasa telah menyebabkan 31 orang meninggal di inggris.

Tomat hasil Bioteknologi adalah Tomat Flavr Savrt diketahui mengandung gen resisten terhadap anti biotik. tidak itu juga jika kita terkena penyakit dari dampak  Bioteknologi, para dokter pun tidak mengetahui Obatnya.  

4. Dampak di Bidang Ekonomi

Penggunaan Bioteknologi tidak juga berdampak kesehatan dan etika, tapi masih dampak yang serius juga, contohnya saja dampak dalam bidang Ekonomi.

Contohnya saja berdampak bagi peternak kecil. penggunaan hormon pertumbuhan sapi dapat meningkatkan produksi susu sampai 20% ini akan mengakibatkan tergusurnya peternak kecil.

Hal itu akan mengakibatkan kesenjangan ekonomi. dan setelah itu terjadi, pastinya ada tinda tindak kriminal lainnya. seperti Pencurian untuk memenuhi kebutuhan tiap harinya.  

Dampak dampak diatas merupakan suatu masalah yang serius bagi para masyarakat dan para ilmuwan, pasalnya masalah masalah diatas bukan masalah yang sepele.

Seharusnya kita mengetahui terlebih dahulu tentang masalah dari Bioteknologi, Hal ini dapat meminimalisir terjadinya dampak dampak negatif di atas.

Jika sudah begini siapa yang rugi?? jika generasi muda kita tidak bisa menikmati dari Hewan yang asli?? yaa makanya kita harus bisa mengendalikan adanya Bioteknologi ini.

Gambar Gravatar
Seorang praktisi Pemasaran, SEO dan Digital Marketing. Suka dengan kata dan cinta dengan karya. Turut memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui beragam artikel pendidikan di kitapunya.net.