Dampak Mobilitas Sosial: Pengertian, Bentuk dan Faktornya

Diposting pada 96 views

Dampak Mobilitas Sosial – Dalam tatanan kehidupan masyarakat, sangat wajar apabila suatu masyarakat yang memiliki strata sosial tertentu, tiba-tiba berubah kedudukannya menjadi strata sosial lainnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh interaksi sosial yang terjadi di antara masyarakat. Sebab anggota masyarakat itu adalah makhluk sosial, sehingga interaksi sosial menjadi keperluan yang tidak bisa dihindarkan. 

Lalu, apakah dampak dari mobilitas sosial ini? Apakah justru akan berdampak positif atau justru akan berdampak negatif? Nah, supaya kamu memahami akan dampak dari mobilitas sosial ini, yuk simak penjelasan berikut!


Pengertian Mobilitas Sosial

Sebelum membahas mengenai dampak dari mobilitas sosial, akan lebih baik apabila kamu memahami terlebih dahulu apa sih konsep dari mobilitas sosial itu. 

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), mobilitas sosial itu berarti perubahan kedudukan warga masyarakat kelas sosial yang satu ke kelas sosial yang lain. Hal tersebut selaras dengan pengertian dari “mobilitas” itu sendiri, yakni gerakan berpindah. 

Sementara itu, menurut Zamhari, mobilitas sosial adalah gerakan individu dari suatu proses sosial ke posisi sosial yang lain, dalam struktur sosial. Bahkan, ada juga yang mengatakan bahwa mobilitas sosial ini merupakan proses perpindahan dari kedudukan satu ke kedudukan yang lain, baik yang lebih tinggi atau ke yang lebih rendah. 

Nah, dari beberapa konsep pengertian akan mobilitas sosial yang telah diungkapkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa mobilitas sosial merupakan proses perpindahan seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) dari kedudukan satu ke kedudukan yang lain. Kedudukan ini dapat juga diartikan sebagai situasi tempat atau status sosial yang dimilikinya di mata masyarakat. 

Bentuk Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial yang terjadi di kalangan masyarakat ini, baik itu di perkotaan maupun pedesaan, memiliki dua bentuk yakni mobilitas sosial horizontal dan mobilitas sosial vertikal. Berikut adalah penjelasannya. 

1. Mobilitas Horizontal

Mobilitas sosial berbentuk horizontal ini merupakan peralihan individu atau sekelompok individu yang berasal dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya, yang memiliki tingkatan sederajat. Misalnya, seseorang yang sebelumnya bekerja menjadi petani, kemudian atas kerja kerasnya, dirinya berhasil menjadi juragan tengkulak. 

Menurut Kurniawati dan Lestari, dalam mobilitas sosial horizontal dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni mobilitas antargenerasi dan mobilitas intragenerasi. 

a) Mobilitas Horizontal Antargenerasi

Secara umum, mobilitas horizontal antargenerasi ini berarti perubahan status yang berhasil dicapai oleh seseorang dan berbeda dari status orang tuanya. Dalam hal ini ditandai dengan adanya perkembangan taraf hidup yang terjadi antargenerasi. 

Misalnya, ada seorang pedagang cabai yang hanya menamatkan pendidikannya hingga Sekolah Dasar saja. Namun, dirinya berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus sekolah pelayaran. Sang anak ini berhasil mengubah statusnya dan keluarganya sehingga dapat berbeda dengan status orang tuanya sebelumnya. 

b) Mobilitas Horizontal Intragenerasi

Mobilitas horizontal intragenerasi ini adalah perpindahan status yang dialami seseorang dalam generasi yang sama. Maksud dari generasi yang sama adalah perpindahan status tersebut terjadi pada dirinya sendiri, bukan atas pencapaian anak atau anggota keluarganya. 

Contohnya, ada seseorang yang sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan. Berkat ketekunan dan keberuntungannya, dia berhasil menjadi mandor. 

2. Mobilitas Vertikal

Nah, dalam mobilitas vertikal ini tentu saja berbeda dengan mobilitas horizontal. Dalam hal ini, dimaknai sebagai perpindahan seseorang yang berasal dari golongan sosial tertentu ke yang lebih tinggi atau bahkan lebih rendah. Seseorang yang mengalami naik atau turunnya status dalam sistem masyarakat ini, ditentukan oleh golongan sosial, kekayaan, jabatan, hingga kekuasaan. 

Menurut Narwoko dan Suyanto, dalam mobilitas sosial vertikal ini justru dapat dibagi menjadi dua hal lagi, yakni:

  • Mobilitas sosial dari atas ke bawah (sosial sinking), yakni perpindahan status sosial anggota masyarakat dari kelas sosial tertentu ke kelas sosial yang lebih rendah posisinya. 
  • Mobilitas dari bawah ke atas (social climbing), yakni perpindahan status sosial anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi. 

Dampak Mobilitas Sosial

Sama halnya dengan hal-hal sosial yang terjadi di masyarakat, mobilitas sosial ini juga memiliki dampak negatif dan dampak positif. 

Dampak PositifDampak Negatif
1. Mendorong seseorang untuk lebih majuTimbul konflik antar anggota masyarakat
2. Mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baikBerkurangnya solidaritas kelompok
3.Meningkatkan adanya integrasi sosialTimbul gangguan psikologis berupa kecemasan akan terjadinya penurunan status apabila usaha yang dilakukannya tidak berhasil
4.Sebagai motivasi kepada anggota masyarakat lain supaya dapat maju sehingga dapat memperoleh status sosial yang lebih tinggi. Adanya keangkuhan dari seseorang yang berhasil dalam mobilitas sosial dengan memamerkan kekayaan dan pencapaiannya
5.Kepuasan seseorang karena dapat berpindah status sosialnya karena usaha yang telah dilakukanKeguncangan kehidupan keluarga dan berakhir pada perceraian
6.Adanya keinginan untuk berusaha lebih dari sebelumnya, supaya dapat berpindah ke status sosial yang lebih tinggi lagiTimbul rasa iri dari anggota masyarakat lain

Faktor Penghambat dan Faktor Pendorong Terjadinya Mobilitas Sosial

Faktor Penghambat Terjadinya Mobilitas Sosial

Terjadinya mobilitas sosial ini didorong oleh beberapa faktor, yakni faktor struktur dan faktor individu. Nah, berikut adalah uraiannya.

Faktor Struktur

1. Struktur Pekerjaan

Umumnya, aktivitas ekonomi yang dilakukan dalam lingkungan masyarakat dibedakan menjadi dua sektor, yakni sektor formal dan sektor informal. Adanya perbedaan tersebut jelas mempengaruhi tingkat “keberhasilan” mobilitas sosial masyarakat yang terlibat. 

Terutama pada sektor pertanian, anggota masyarakat yang terlibat lebih banyak memiliki status kedudukan rendah, sehingga tingkat mobilitasnya juga akan rendah. 

Namun, hal tersebut tidak lantas membuat mereka “gagal” dalam upaya mobilitas sosial. Justru saat ini sudah banyak anggota masyarakat yang bekerja di sektor pertanian dan berhasil melakukan mobilitas sosial, baik secara horizontal maupun vertikal. 

2. Ekonomi Ganda

Ekonomi ganda ini biasanya terjadi di negara berkembang, sehingga menimbulkan dualisme. Pertama, kegiatan ekonominya masih dikuasai oleh unsur-unsur yang bersifat tradisional. Kedua, kegiatan ekonominya dikuasai oleh unsur-unsur yang bersifat modern. 

3. Pengalaman Belajar

Anggota masyarakat yang berasal dari kelas sosial menengah, umumnya memiliki pengalaman belajar yang lebih terjamin daripada pengalaman belajar yang dimiliki oleh anggota masyarakat dari kelas sosial rendah. 

Apalagi, adanya pandangan bahwa ijazah, test, rekomendasi, hingga jaringan hubungan antar teman dapat menjadi tempat bertukar informasi disertai dengan rekomendasi yang menyangkut pada kesempatan kerja. Hal tersebut menyulitkan bagi orang-orang luar untuk “menerobosnya”, sehingga akan menimbulkan diskriminasi. 

Faktor Individu

1. Perbedaan Kemampuan

2. Perbedaan Perilaku

  • Pendidikan
  • Kebiasaan Kerja
  • Pola Penundaan Kesenangan
  • Kemampuan Cara Bermain
  • Pola Kesenjangan Nilai
  • Faktor Keberuntungan

Faktor Pendorong Terjadinya Mobilitas Sosial

1. Perubahan Situasi Politik

Perubahan situasi politik yang terjadi di suatu negara pada dasarnya dapat menjadi bentuk dukungan rakyat terhadap struktur pemerintah yang baru tersebut. Nah, melalui dukungan-dukungan tersebut, maka seorang individu juga memiliki keinginan untuk mengembangkan “usahanya” supaya dapat melakukan mobilitas sosial.

2. Perubahan Sosial Budaya

Dalam kehidupan bermasyarakat, baik di perkotaan atau pedesaan, pasti akan senantiasa terjadi perubahan, baik dalam struktur sosial, interaksi sosial, hingga sistem tata nilai yang berlaku. Perubahan-perubahan tersebut nantinya dapat mendorong individu melakukan penyesuaian terhadap tuntutan perubahan tersebut, sehingga secara tidak sadar akan menimbulkan keinginan untuk melakukan social climbing. 

Ingat, social climbing adalah perpindahan status sosial anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi. 

Tidak hanya itu, kemajuan teknologi dan perubahan ideologi juga membuka kemungkinan akan timbulnya mobilitas ke arah atas serta “menciptakan” stratifikasi baru yang berkembang di masyarakat. 

3. Perubahan Ekonomi

Situasi ekonomi yang berjalan di suatu masyarakat, tentu saja memberikan dorongan kepada individu atau sekelompok individu untuk meningkatkan status sosial mereka. Apalagi jika situasi ekonomi pada kala itu membaik dan membuat mereka berhasil dalam menjalankan berbagai macam usaha. 

Mobilitas Sosial Melalui Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu saluran dalam upaya mobilitas sosial yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Pendidikan memang pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup bangsa dan supaya dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara yang maju. 

Lalu, apa hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat sosial ekonomi seseorang? Nah, berikut adalah gambaran yang dicetuskan oleh Clark. 

1. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin tinggi pula penghasilannya. Contohnya, seseorang dengan tamatan pendidikan SMA ketika bekerja dengan seseorang tamatan perguruan tinggi, maka penghasilan yang lebih tinggi biasanya adalah tamatan perguruan tinggi. 

Meskipun tidak dipungkiri juga bahwa tamatan pendidikan SMA juga dapat berpenghasilan tinggi, tetapi hal ini didasarkan pada realitas sosial yang terjadi. 

2. Seseorang dengan tamatan Sekolah Dasar (atau Sekolah Menengah Pertama), akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 25-34 tahun. Sementara itu, seseorang dengan tamatan Sekolah Menengah Atas, akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-44 tahun. Lalu, seseorang dengan tamatan perguruan tinggi, akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 45-54 tahun.

3. Seseorang dengan tamatan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, pada usia tua akan mendapatkan hasil yang lebih rendah dari hasil ketika mereka mulai bekerja. Sementara itu, pada seseorang dengan tamatan Sekolah Menengah Atas, pada usia tua akan mendapatkan hasil yang seimbang dengan hasil ketika mereka mulai bekerja. Lalu, pada seseorang dengan tamatan perguruan tinggi, pada usia tua akan mendapatkan hasil yang lebih besar dari ketika mereka mulai bekerja. 

Nah, itulah penjelasan mengenai dampak mobilitas sosial yang terjadi pada anggota masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. Sebenarnya, mobilitas sosial ini tentu saja memberikan banyak dampak positif bagi anggota masyarakat, sebab secara tidak langsung justru menjadi motivasi tersendiri bagi mereka supaya mau maju dan hidup yang lebih baik. 

Baca Juga:

Sumber: 

Nasution, Aris. (2019). Sosiologi Pendidikan: Profesionalisme Pendidikan di Sekolah. Malang: CV Ismaya Berkah Group.