Mengapa Perang Diponegoro Sering Disebut dengan Perang Jawa?

Perang Diponegoro sering disebut sebagai perang Jawa karena memang peperangan dibawah pimpinan Pangeran Diponegoro ini tidak hanya terjadi di Daerah Yogyakarta dan Surakarta saja, tetapi juga meluas di hampir seluruh bagian Pulau Jawa. Seperti di daerah Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang dan Rembang. Di daerah timur seperti Madiun, Magetan, Kediri dan sekitarnya.

Perang jawa (The Java War) menjadi perang terbesar yang berlangsung di pulau Jawa pada tahun 1825 - 1830, perang ini sangat merugikan Belanda, bahkan sampai membuat kerugian di pihak Belanda sebesar 20 juta Gulden.

Perang dalam melawan Belanda ini juga telah mensyahidkan 200.000 jiwa para pejuang Jawa, sementara dari pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara dan 7000 serdadu pribumi.

Pangeran Diponegoro merupakan putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III, raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta, lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785 dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati. Ketika kecil Pangeran Diponegoro memiliki nama Bendara Raden Mas Antarwirya.
Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro


Latar Belakang Perang Diponegoro
Penjajahan oleh Belanda memang membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat di tanah Jawa, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Surakarta sebagai kediaman dari Pangeran Diponegoro. Kolonialisme dan Imperialisme yang dilakukan oleh pihak Belanda telah membawa pergeseran adat dan budaya di keraton. Selain itu juga membawa konflik baru di lingkungan kerajaan.

Pangeran Diponegoro juga merasakan penderitaan rakyat akibat tindakan Belanda yang serba paksa, khususnya dalam penarikan pajak yang cukup memberatkan rakyat seperti pajak tanah, pajak halaman pekarangan, pajar ternak dan lain sebagainya.

Perang Diponegoro juga dilatarbelakangi oleh pemasangan anjir (pancang/patok) yang dilakukan oleh anak buah Smissaert dan Patih Danurejo dalam rangka pembuatan jalan baru, pemasangan patok itu disengaja melewati Pekarangan milik Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa izin. Bahkan dibeberapa sumber disebutkan bahwa patok-patok itu melewati makam leluhur dari Pangeran Diponegoro.

Tentu saja Pangeran Diponegoro tidak terima begitu saja, sehingga memerintahkan agar pejuangnya mencabut patok-patok itu dan menggantinya dengan tombak-tombak mereka. Berawal dari insiden ini pecahlah Perang Diponegoro atau yang kemudian disebut sebagai Perang Jawa.

Awalnya perang memang berpusat di Yogyakarta, namun kemudian meluas hingga ke daerah-daerah yang lain. Dalam strategi perangnya Pangeran Diponegoro telah membagi menjadi 16 mandala perang yaitu :
  1. Yogyakarta dan sekitarnya di bawah komando Pangeran Adinegoro (adik Diponegoro).
  2. Bagelan diserahkan kepada Pangeran Suryokusumo dan Tumenggung Reksoprojo.
  3. Daerah Kedu diserahkan kepada Kiai Muhammad Anfa dan Mulyosentiko.
  4. Perlawanan di Lowanu dipimpin oleh Pangeran Abubakar dan Pangeran Muhammad.
  5. Kulon Progo dibawah komando Pangeran Adisuryo dan Pangeran Somonegoro.
  6. Yogyakarta bagian utara : Pangeran Joyokusumo.
  7. Yogyakarta bagian timur : Suryonegoro, Somodiningrat, dan Suronegoro.
  8. Gunung Kidul : Pangeran Singosari.
  9. Daerah Plered : Kertopengalasan.
  10. Pajang : Warsokusumo dan Mertoloyo.
  11. Sukowati : Tumenggung Kertodirjo dan Mangunnegoro.
  12. Gowong : Tumenggung Gajar Pernolo
  13. Langon : Pangeran Notobroto Projo.
  14. Serang : Pangeran Serang.
  15. dll
Semoga bisa terjawab yaa tentang pertanyaan mengapa perang diponegoro sering disebut dengan perang jawa. 


Sumber : Sejarah Indonesia, Kelas 11 SMA. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2017

Belum ada Komentar untuk "Mengapa Perang Diponegoro Sering Disebut dengan Perang Jawa?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel