Berbagai Bentuk Penentangan Terhadap Sistem Tanam Paksa

Sistem tanam paksa (cultur stelsel) yang banyak terjadi penyelewengan-penyelewengan tersebut ternyata banyak mengundang simpati dari tokoh-tokoh pada waktu itu, terutama dari kaum liberal yang banyak didukung oleh para pengusaha.

Perlu diketahui bahwa sistem tanam paksa telah mendatangkan banyak keutungan bagi pemerintahan kolonial Belanda, tujuan awalnya yang untuk memperbaiki perekonomian pun sudah tercapai. Perekonomian di pihak Belanda terbantu dengan adanya sistem tanam paksa ini. Pelaksanaan sistem tanam paksa inipun muncul pro dan kontra, ada yang setuju tapi juga ada yang menentang.

Pihak-pihak yang Pro Tanam Paksa adalah kelompok-kelompok yang diuntungkan, seperti kelompok konservativ dan para pegawai pemerintah.

Sementara pihak-pihak yang menentang adalah kelompok masyarakat yang merasa empati terhadap penderitaan rakyat. Kebanyakan mereka adalah kelompok-kelompok yang dipengaruhi oleh ajaran agama dan penganut asas liberalisme.

Kelompok-kelompok agama menentang karena ketidaksesuaian pelaksanaan sistem tanam paksa yang sangat tidak manusiawi dan merugikan bagi masyarakat. Sementara para kaum liberal tidak setuju karena paham mereka yang menyatakan bahwa ekonomi dalam suatu negara tidak boleh ada campur tangan dari pemerintah, kegiatan ekonomi harus diberikan kepada pihak swasta.

Pandangan dan ajaran kaum liberal itu semakin berkembang dan semakin kuat, akhirnya pada tahun 1850 Pemerintah mulai Bimbang dengan sistem tanam paksa. Hal tersebut juga didukung oleh kemenangan politik di Parlemen (Staten Generaal). Parlemen memiliki peranan lebih besar dalam urusan tanah jajahan. Kaum liberal ini menuntut adanya perubahan dan pembaruan dalam perekonomia, terutama dalam kaitannya peran pemerintah dalam perekonomian.

Selain desakan dari kaum liberal yang menuntut penghapusan sistem tanam paksa, ada tokoh yang mengkritik kekejaman pemerintah kolonial Belanda melalui buku. Pada tahun 1860 terbitlah dua buku yaitu Max Havelaar karya Edward Douwes Dekker (Multatuli) dan buku berjudul Suiker Contractor (Kontak-kontrak Gula) tulisan Frans Van de Pute.
Edward Douwes Dekker
Edward Douwes Dekker
Kedua buku itu berisi mengkritik keras terhadap tanam Paksa. Dan kedua-duanya juga laris di tanah Eropa, akhirnya masyarakat Belanda pun banyak yang kemudian menentang atas apa yang dilakukan pada tanah jajahan di Hindia Belanda. Bahkan, Max Havelaar melalui bukunya tersebut, disebut-sebut sebagai orang yang berjasa besar dalam menghapus kolonialisme dan imperialisme.

Selain pertentangan-pertentangan di atas, adanya kesepatakan/perjanjian di Traktat Sumatra juga membuat sistem tanam paksa harus di akhir. Perjanjian pada tahun 1871 itu berisi bahwa Inggris memberikan kebebasan kepada Belanda untuk meluaskan daerahnya sampai ke Aceh. Tetapi sebagai imbangnya Inggris meminta kepada Belanda agar menerapkan ekonomi liberal, sehingga pihak swasta termasuk Inggris dapat menanamkan modalnya di tanah jajahan Belanda di Hindia.

Belum ada Komentar untuk "Berbagai Bentuk Penentangan Terhadap Sistem Tanam Paksa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel