Pengamalan Pancasila dalam Kehidupan Bernegara Secara Objektif dan Subjektif

Pengamalan Pancasila dalam Kehidupan Bernegara Secara Objektif dan Subjektif - Kitapunya.net kali ini kembali membahas tentang dasar negara kita, yaitu Pancasila. Memang tidak ada habisnya jika membicarakan Pancasila, dari mulai sejarahnya hingga pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Nah, kita akan membahas mengenai Pengamalannya dalam kehidupan bernegara, yang nantinya dilakukan dengan dua cara yaitu secara objektif dan subjektif. 

Pancasila sebagai dasar negara juga menjadi dasar bagi warga negara untuk bertingkah laku dan bersikap. Pancasila memiliki fungsi sebagai dasar negara yang statis, ini disebabkan karena Pancasila tersebut adalah landasan dari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, Pancasila juga dinamis karena Pancasila memiliki sifat fleksibel (luwes) dan dapat menyesuaikan dengan perubahan zaman. Sifat fleksibel inilah yang merupakan pemaknaan dari Pancasila sebagai ideologi yang terbuka. Proses perumusan Pancasila tidaklah sembarangan, proses perumusannya sangat panjang dan melibatkan orang-orang hebat dari berbagai daerah di Indonesia. Pancasila juga memiliki fungsi sebagai alat pemersatu bangsa.

Pengamalan Pancasila
Pengamalan Pancasila


Pada dasarnya sikap positif kita terhadap Pancasila adalah sejauh mana kita memaknai nilai-nilai yang ada atau terkandung didalam Pancasila itu sendiri. Tentu saja tidak hanya sampai pada memaknai saja, tetapi implementasi atau pengamalan dalam kehidupan sehari-hari itulah yang lebih penting. Percuma saja apabila kita mengetahui makna dari nilai-nilai tersebut, namun tidak kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah implementasi dari Pancasila dalam kehidupan bernegara, ada dua cara untuk mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yaitu secara objektif dan juga secara subjektif, dan berikut ini adalah penjelasannya :

1. Pengamalan Pancasila secara objektif 

Implementasi dalam kehidupan bernegara secara objektif berarti melaksanan dan juga mentaati peraturan perundang-undangan susai norma hukum negara yang berlandaskan Pancasila. Pengamalan secara objektif ini harus ada dukungan dari pihak yang berkuasa di suatu negara. Pengamalan pancasila secara objektif ini memiliki sifat memaksa, dan apabila kita melanggar maka ada sanksi hukum yang mengikat. Dengan kata lain, semua warga negara yang melakukan pelanggaran hukum adakan mendapatkan hukuman atau sanksi. Pengamalan yang seperti ini merupakan konsekuensi dan perwujudan dari nilai dasar Pancasila sebagai norma hukum negara.

2. Penamalan secara subjektif

Nah, selain dari pengamalan secara objektif yang selanjutnya pengamalan dalam kehidupan bernegaar adalah pengamalan secara subjektif. Pengamalan secara subjektif ini berarti menjalankan nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila yang berwujud norma etik secara pribadi atau kelompok sebagai pedoman bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya di dalam pengamalan secara subjektif ini Pancasila menjadi sumber atau dasar etika bagi semua warga negara dan penyelenggara negara (pemerintah) dalam bersikap dan bertingkah laku.

Etika kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersumber pada nilai-nilai Pancasila sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 adalah norma-norma etik yang dapat kita amalkan dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelanggaran terhadap norma etik tidak mendapatkan sanksi hukum, tetapi sanksi diri sendiri seperti rasa malu, dikucilka atau diejek. Pengamalan secara subjektif merupakan konsekuensi dari mewujudkan nilai dasar Pancasila sebagai norma etik  dalam berbangsa dan bernegara. 

Load disqus comments

0 comments