Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional

Kita Punya - Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional. Charging system pada kendaraan memiliki fungsi yang sangat vital, mengingat fungsi utamanya adalah untuk mengisi kembali baterai (aki) dan untuk mensuplai kebutuhan listrik untuk semua sistem kelistrikan pada kendaraan selama mesin itu hidup. Sistem pengisian terdapat beberapa komponen utama yaitu alternator, baterai, regulator, kunci kontak dan lain sebagainya. Alternator berfungsi untuk mengubah energi gerak menjadi energi listrik. 

Lebih lengkap bisa baca : Fungsi Alternator. Sedangkan regulator berfungsi untuk mengatur besar kecilnya tegangan yang dihasilkan oleh alternator, bisa dikatakan juga berfungsi untuk menstabilkan tegangan yang dihasilkan oleh alternator.  Baca disini : Regulator Sistem Pengisian.

Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional

Skema di bawah ini menggambarkan rangkaian sistem pengisian konvensional secara sederhana, skema dibawah ini dibagi menjadi dua bagian utama yaitu alternator dan regulator, sementara ada komponen lainnya seperti baterai, fusible link, fuse, charge warning lamp (lampu pengisian), load (beban).  Alternator terdiri dari beberapa komponen seperti kumpatan stator ( stator coil), kumparan rotor (rotor coil), enam buah dioda yang dirangkai dengan sistem jembatan, dan terminal alternator (E, F, N, dan B). Baca : Komponen-komponen Alternator Sistem Pengisian
Rangkaian Sistem Pengisian
Rangkaian Sistem Pengisian

Pada bagian regulator, terdapat beberapa bagian yaitu voltage regulator, voltage relay, kontak poin, resistor, dan terminal -terminal regulator (Ig, N, F, E, L, dan B). Semua komponen dalam alternator dan regulator dihubungkan satu sama lain sehingga membentuk rangkaian sistem pengisian.

Cara kerja dari sistem pengisian dengan regulator tipe konvensional terbagi menjadi empat bagian, yaitu pada saat kunci kontak ON mesin belum hidup, mesin hidup putaran lambat, putaran sedang, dan putaran tinggi. Berikut dijelaskan cara kerja sistem pengisian tipe konvensional.

Cara Kerja Sistem Pengisian Kunci Kontak On Mesin Mati
Untuk memudahkan maka untuk komponen baterai, fusible link, kunci kontak, charge warning lamp, fuse, saya singkat menjadi : B, FL, KK, CWL, F. Dan juga : Rotor Coil (RC), Stator Coil (SC). Resistro (R).
Cara Kerja Sistem Pengisian Kunci Kontak On Mesin Mati
Cara Kerja Sistem Pengisian Kunci Kontak On Mesin Mati

  1. Setelah kunci kontak diputar ke posisi ON, maka arus akan mengalir dari baterai ke Fusible link, ke kunci kontak ke fuse ke Charge Warning Lamp ke terminal L regulator ke P0 ke P1 ke massa. Akibatnya lampu pengisian menyala. Pada gambar diatas aliran arusnya berwarna merah. Keterangan : Maaf kunci kontak jadi tidak kelihatan akibat tertutup warna merah.
  2. Pada saat yang sama, arus dari baterai juga mengalir ke FL  ke KK  ke fuse ke terminal IG regulator ke PL1 ke PL0 ke terminal F regulator ke F alternator ke slipring, ke rotor coil, ke slip ring kemudian ke massa. Akibatnya pada kumparan rotor timbul medan magnet.

Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Lambat
Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Lambat
Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Lambat

  1. Setelah mesin hidup, alternator khusunya pada stator coil akan menghasilkan arus listrik.
  2. Arus yang dihasilkan ini dari terminal N alternator  akan mengalir menuju terminal N alternator ke N regulator , ke kumparan voltage relay, ke massa. Akibatnya pada voltage relay terjadi kemagnetan, sehingga terminal P0 akan tertarik dan menempel dengan P2. Yang mana arus yang ke lampu pengisian (cwl) tidak mendapatkan massa, ini akan membuat lampunya mati.
  3. Output dari stator coil ini disalurkan ke dioda (rectifier) dan disearahkan menjadi arus searah (DC) kemudian mengalir ke terminal B alternator kemudian ke baterai. Maka pada baterai/aki terjadi pengisian.
  4. Arus dari terminal B alternator juga mengalir ke B regulator ke P2 ke P0 ke kumparan voltage regulator ke massa. Akibatnya timbul kemagnetan pada voltage regulator.
  5. Karena putaran masih rendah, tegangan output alternator cenderung rendah, dan kemagnetan pada kumparan voltage regulatornya pun juga masih lemah, akibatnya tidak mampu menarik  PL0 dan tetap menempel ke PL1 (karena adanya pegas pada Pl 0).
  6. Pada saat ini arus yang besar mengalir dari Ig , ke Pl1, ke Pl0, ke F regulator, ke F alternator ke RC ke massa, maka arus yang mengalir ke RC besar dan medan magnet pada RC kuat. Jadi, meskipun putaran lambat, output alternator tetap cukup untuk mengisi baterai karena medan magnet pada RC kuat. Ouput tegangan ini berkisar antara 13,8 sampai 14,8 Volt.


Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Sedang
Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Sedang
Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Sedang

  1. Ketika putaran mesin dinaikan menjadi putaran sedang, maka tegangan output alternator di terminal B akan naik juga dan arusnya mengalir ke B reg ulator ke P2 ke P0 ke kumparan voltage regulator, ke massa.
  2. Akibatnya, kemagnetan pada voltage regulator menjadi semakin kuat dan mampu menarik PL0 tetapi belum cukup kuat sehingga PL0 ini akan lepas dari PL1 dan posisinya mengambang.
  3. Akibatnya, arus dari B alternator mengalir ke IG regulator ke resistor/tahanan ke F regulator ke F alternator ke RC ke massa. Karena arus melewati resistor, maka arus tersebut akan lebih kecil akibatnya kemagnetan pada rotor coil melemah.
  4. Meskipun kemagnetan pada RC melemah, namun putaran mesin naik ke putaran sedang (putaran alternator  semakin cepat) sehingga output alternator tetap cukup untuk mengisi baterai (tegangan antara 13,8 sampai 14,8 volt).
Baca : Sistem Pengisian (Charging System)
Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Tinggi
Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Tinggi
Cara Kerja Sistem Pengisian Mesin Hidup Putaran Tinggi
  1. Kemudian jika putaran dinaikan lagi menjadi putaran tinggi, maka tegangan output pada terminal B alternator akan cenderung makin tinggi. Bila tegangan tersebut melebihi 14,8 volt, maka kemagnetan pada kumparan voltage regulator semakin kuat yang mana akan mampu menarik PL0 dan akan membuat menempel dengan PL2. 
  2. Karena PL0 menempel dengan PL2, maka aliran arus akan berbeda, yakni arus yang berasal dari terminal IG regulator akan mengalir ke R ke PL0 ke PL2 kemudian ke massa (tidak mengalir ke RC). Hal ini menyebabkan medan magnet pada Rotor coil tidak ada.
  3. Karena pada RC tidak terjadi kemagnetan, maka output tegangan pada alternatornya pun akan turun. Bila tegangan output kurang dari tegangan standar (13,8 – 14,8 V) maka kemagnetan pada voltage regulator akan melemah lagi, sehingga PL0 akan lepas lagi dari PL2.
  4. Arus dari IG regulator ke R kembali mengalir lagi ke RC ke massa, sehingga medan magnet pada RC kembali menguat sehingga tegangan output alternator naik lagi.
  5. Bila tegangan di B naik lagi dan melebihi 14,8 volt, maka prosesnya berulang ke proses seperti di atas secara berulang-ulang dan Pl0 lepas dan menempel dengan Pl2 secara periodik sehingga output alternator tetap stabil.
Berdasarkan cara kerja sistem pengisian konvensioanl di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terjadinya tegangan output alternator dipengaruhi oleh tiga hal penting, yaitu :
  1. Adanya medan magnet yang dihasilkan oleh rotor coil.
  2. Adanya kumparan di sekitar medan magnet, yaitu stator coil.
  3. Adanya pemotongan medan magnet oleh kumparan. Pemotongan medan magnet ini terjadi karena adanya putaran poros alternator yang menyebabkan rotor coil berputar dan medan magnet yang ada padanya juga berputar memotong kumparan pada stator coil.
Load disqus comments

0 comments